Pada 1 Februari 2026 sore hari, atap dua ruang kelas di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Falah, Desa Cikeas Udik, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, ambruk secara tiba-tiba. Kejadian ini menarik perhatian publik karena menyoroti kondisi infrastruktur pendidikan yang rentan, khususnya madrasah di Bogor ambruk akibat bangunan lapuk dan tak terawat. Beruntung, tidak ada korban jiwa karena peristiwa terjadi di luar jam pelajaran sekolah.
Insiden ini menjadi pengingat penting tentang risiko bangunan sekolah usang. Siswa terpaksa belajar dari rumah sementara. Pihak berwenang segera merespons dengan pengamanan dan penilaian kerusakan. Artikel ini mengupas kronologi lengkap, penyebab utama, dampak, respons pemerintah, konteks nasional, serta rekomendasi konkret untuk mencegah kejadian serupa. Anda akan memahami mengapa madrasah di Bogor ambruk dan langkah apa yang bisa dilakukan semua pihak.
Kronologi Kejadian Ambruknya Madrasah di Bogor
Kejadian terjadi Minggu, 1 Februari 2026, sekitar pukul 17.30 WIB. Atap ruang kelas 3 dan kelas 6 runtuh tanpa hujan deras atau angin kencang. Material atap seperti genteng, kayu rangka, asbes, dan bongkahan dinding berserakan di dalam ruangan. Ruang kelas 6 mengalami kerusakan paling parah.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bogor tiba keesokan harinya. Mereka memasang garis polisi untuk mengamankan lokasi. Pihak sekolah langsung meliburkan siswa dan mengalihkan kegiatan belajar ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kondisi bangunan yang sudah rapuh membuat reruntuhan sulit dibersihkan segera.
Lokasi tepatnya berada di Desa Cikeas Udik. Madrasah ini melayani pendidikan dasar Islam bagi anak-anak setempat. Kejadian ini tidak terduga karena tidak ada tanda-tanda bahaya ekstrem sebelumnya.
Penyebab Utama Keruntuhan Bangunan Lapuk
Bangunan lapuk menjadi faktor utama madrasah di Bogor ambruk. Usia bangunan yang sudah tua menyebabkan pelapukan kayu dan rangka atap. Material lama tidak lagi kuat menahan beban sendiri, apalagi jika ada getaran kecil atau kelembaban tinggi.
Kurangnya perawatan rutin memperburuk situasi. Pihak sekolah mengaku pernah mengajukan bantuan renovasi, namun respons pemerintah lambat atau terhambat anggaran terbatas. Banyak madrasah swasta mengandalkan dana komunitas yang minim. Hasilnya, retak kecil berkembang menjadi keruntuhan total.
Faktor lain termasuk kualitas konstruksi awal yang kurang memadai. Tanpa perencanaan anti-pelapukan atau drainase baik, air meresap dan merusak fondasi serta rangka. Inspeksi struktural jarang dilakukan karena keterbatasan sumber daya.
Dampak terhadap Pendidikan dan Siswa
Ambruknya ruang kelas langsung mengganggu proses belajar mengajar. Siswa MI Miftahul Falah belajar dari rumah selama minimal satu minggu. PJJ memang solusi cepat, tetapi kurang efektif untuk mata pelajaran praktik atau interaksi langsung.
Dampak psikologis juga muncul. Anak-anak mungkin trauma melihat foto kerusakan atau mendengar cerita. Orang tua khawatir tentang keselamatan sekolah. Secara lebih luas, gangguan ini bisa menurunkan motivasi belajar dan prestasi akademik jangka pendek.
Madrasah ini melayani puluhan siswa. Kerusakan dua ruang kelas mengurangi kapasitas kelas secara signifikan. Perbaikan mendesak dibutuhkan agar aktivitas normal segera pulih.
Respons dan Penanganan Awal oleh Pihak Berwenang
BPBD Kabupaten Bogor bergerak cepat. Tim melakukan asesmen awal, membersihkan sebagian reruntuhan, dan memasang pengamanan. Adam Hamdani dari BPBD menegaskan penyebab utama adalah kondisi rapuh, bukan faktor cuaca.
Pemerintah kabupaten berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Sekolah mendapat dukungan untuk PJJ sementara. Pihak madrasah berharap bantuan renovasi segera cair.
Respons komunitas juga positif. Warga sekitar membantu memantau lokasi. Namun, pembersihan total dan rekonstruksi masih memerlukan dana besar dan waktu.
Konteks Lebih Luas: Masalah Infrastruktur Madrasah di Indonesia
Kasus madrasah di Bogor ambruk bukan kejadian tunggal. Banyak madrasah di Indonesia menghadapi masalah serupa. Data Kemenag menunjukkan ratusan madrasah rusak berat atau sedang di berbagai provinsi, seperti di Jawa Timur mencapai 178 unit yang memerlukan revitalisasi.
Penyebab umum meliputi usia bangunan tua, anggaran terbatas, dan pengawasan lemah. Madrasah swasta sering kali lebih rentan dibandingkan sekolah negeri. Laporan Kompas.id menyebutkan puluhan hingga ratusan bangunan sekolah ambruk setiap tahun di berbagai daerah akibat kombinasi pelapukan, bencana alam, dan kelalaian perawatan.
Kasus serupa terjadi di Sukabumi (2025), Takalar, Garut, dan Brebes. Di sana, atap roboh atau dinding runtuh karena faktor yang mirip. Ini menandakan masalah sistemik infrastruktur pendidikan Islam nasional.
Regulasi dan Standar Keselamatan Bangunan Sekolah
Pemerintah telah menetapkan standar melalui Permendikbud dan regulasi Kemenag. Bangunan sekolah harus memenuhi persyaratan tahan gempa, drainase baik, dan inspeksi berkala. Namun, implementasi di tingkat daerah sering kali kurang ketat.
Kemenag bertanggung jawab atas madrasah. Program revitalisasi ada, tetapi prioritas dan pendanaan terbatas. Sekolah wajib melaporkan kondisi bangunan secara rutin. Keterlibatan masyarakat dan audit independen bisa memperkuat pengawasan.
Solusi dan Rekomendasi Pencegahan
Pihak sekolah harus melakukan inspeksi rutin oleh ahli struktur. Prioritaskan perbaikan kecil sebelum menjadi besar. Gunakan material modern seperti rangka baja ringan atau genteng tahan cuaca untuk mengurangi pelapukan.
Pemerintah daerah perlu mempercepat penyaluran bantuan renovasi. Alokasikan dana khusus untuk madrasah swasta. Program nasional seperti revitalisasi madrasah harus dievaluasi dan diperluas.
Masyarakat dapat berkontribusi melalui donasi atau gotong royong. Orang tua dan alumni aktif memantau kondisi sekolah. Advokasi ke DPRD atau Kemenag mendesak anggaran lebih besar.
Rekomendasi jangka panjang meliputi pelatihan pengelola madrasah tentang manajemen aset bangunan dan integrasi teknologi monitoring struktural sederhana.
Masa Depan Pendidikan di MI Miftahul Falah
MI Miftahul Falah berpotensi bangkit lebih kuat setelah renovasi. Dengan dukungan semua pihak, bangunan baru bisa lebih aman dan nyaman. Ini menjadi momentum memperbaiki infrastruktur madrasah serupa di Bogor dan Indonesia.
Kesadaran kolektif penting. Setiap madrasah di Bogor ambruk harus memicu aksi preventif, bukan sekadar reaksi.
Kasus madrasah di Bogor ambruk mengungkap kerentanan bangunan sekolah lapuk. Penyebab utama adalah pelapukan dan kurang perawatan. Dampaknya mengganggu pendidikan anak-anak. Respons cepat BPBD membantu, tetapi solusi jangka panjang memerlukan komitmen pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Anda dapat mendukung dengan mengadvokasi perbaikan infrastruktur pendidikan di wilayah Anda. Bagikan pengalaman atau donasi ke madrasah terdekat. Bersama, kita cegah tragedi serupa dan pastikan anak-anak belajar di lingkungan aman.

